~Aku Berfikir Maka Aku Ada~

Kamis, 17 Oktober 2013

Posted by Unknown | File under :
Max Weber atau lebih lengapnya Maximilian Weber adalah seorang ahli ekonomi politik dan sosiolog dari Jerman yang dianggap sebagai salah satu pendiri ilmu sosiologi dan administrasi negara modern. Max Weber lahir di Erfurt, Jerman pada tanggal 21 April 1864. Karya utamanya berhubungan dengan rasionalisasi dalam sosiologi agama dan pemerintahan, meskipun demikian ia juga sering menulis di bidang ekonomi. Max Waber berasal dari keluarga kelas menengah, perbedaan penting antara kedua orang tuanya berpengaruh besar terhadap orientasi intelektual dan perkembangan psikologi Weber. Ayahnya adalah seorang birokrat yang kedudukan politiknya relatif penting, dan menjadi bagian dari kekuasaan politik yang mapan dan sebagai akibatnya menjauhkan diri dari setiap aktivitas dan  dan idealisme yang memerlukan pengorbanan pribadi atau yang dapat menimbulkan ancaman terhadap kedudukannya dalam sistem. Lagi pula sang ayah adalah seorang yang menyukai kesenangan duniawi dan dalam hal ini, juga dalam berbagai hal lainnya, ia bertolak belakang dengan istrinya. Ibu Marx Weber adalah seorang Calvinis yang taat, wanita yang berupaya menjalani kehidupan prihatin (asetic) tanpa kesenangan seperti yang sangat menjadi dambaan suaminya. Perhatiannya kebanyakan tertuju pada aspek kehidupan akhirat; ia terganggu oleh ketidaksempurnaan yang dianggapnya menjadi pertanda bahwa ia terganggu oleh ketidaksempurnaan yang dianggapnya menjadi pertanda bahwa ia tak ditakdirkan akan mendapat keselamatan di akhirat. Perbedaan mendalam antara kedua pasangan ini menyebabkan ketegangan perkawinan mereka dan ketegangan ini berdampak besar terhadap Weber.

Karena tak mungkin menyamakan diri terhadap pembawaan orang tuanya yang bertolak belakang itu, Weber kecil lalu berhadapan dengan suatu pilihan jelas (Marianne Weber, 1975:62). Mula-mula ia memilih orientasi hidup ayahnya, tetapi kemudian tertarik makin mendekati orientasi hidup ibunya. Apapun pilihannya, ketegangan yang dihasilkan oleh kebutuhan memilih antara pola yang berlawanan itu berpengaruh negatif terhadap kejiwaan Weber. Ketika berumur 18 tahun Weber minggat dari rumah, belajar di Universitas Heildelberg. Weber telah menunjukkan kematangan intelektual, tetapi ketika masuk universitas ia masih tergolong terbelakang dan pemalu dalam bergaul. Sifat ini cepat berubah ketika ia condong pada gaya hidup ayahnya dan bergabung dengan kelompok mahasiswa saingan kelompok mahasiswa ayahnya dulu. Secara sosial ia mulai berkembang, sebagian karena terbiasa minum bir dengan teman-temannya. Lagipula ia dengan bangga memamerkan parutan akibat perkelahian yang menjadi cap kelompok persaudaraan mahasiswa seperti itu. Dalam hal ini Weber tak hanya menunjukkan jati dirinya sama dengan pandangan hidup ayahnya tetapi juga pada waktu itu memilih karir bidang hukum seperti ayahnya.

Setelah kuliah tiga semester Weber meninggalkan Heidelberg untuk dinas militer dan tahun 1884 ia kembali ke Berlin, ke rumah orang tuanya, dan belajar di Universitas Berlin. Ia tetap disana hampir 8 tahun untuk menyelesaikan studi hingga mendapat gelar Ph.D., dan menjadi pengacara dan mulai mengajar di Universitas Berlin. Dalam proses itu minatnya bergeser ke ekonomi, sejarah dan sosiologi yang menjadi sasaran perhatiannya selama sisa hidupnya. Selama 8 tahun di Berlin, kehidupannya masih tergantung pada ayahnya, suatu keadaan yang segera tak disukainya. Pada waktu bersamaan ia beralih lebih mendekati nilai-nilai ibunya dan antipatinya terhadapnya meningkat. Ia lalu menempuh kehidupan prihatin (ascetic) dan memusatkan perhatian sepenuhnya untuk studi. Misalnya, selama satu semester sebagai mahasiswa, kebiasaan kerjanya dilukiskan sebagai berikut : “Dia terus mempraktikkan disiplin kerja yang kaku, mengatur hidupnya berdasarkan pembagian jam-jam kegiatan rutin sehari-hari ke dalam bagian-bagian secara tepat untuk berbagai hal. Berhemat menurut caranya, makan malam sendiri dikamarnya dengan 1 pon daging sapi dan 4 buah telur goreng” (Mitzman, 1969/1971:48; Marianne Weber, 1975:105). Jadi, dengan mengikuti ibunya, Weber menjalani hidup prihatin, rajin, bersemangat kerja, tinggi dalam istilah modern disebut Workaholic (gila kerja). Semangat kerja yang tinggi ini mengantarkan Weber menjadi profesor ekonomi di Universitas Heidelberg pada 1896. Pada 1897, ketika karir akademis Weber berkembang, ayahnya meninggal setelah terjadi pertengkaran sengit antara mereka. Tak lama kemudian Weber mulai menunjukkan gejala yang berpuncak pada gangguan safaf. Sering tak bisa tidur atau bekerja, dan enam atau tujuh tahun berikutnya dilaluinya dalam keadaan mendekati kehancuran total. Setelah masa kosong yang lama, sebagian kekuatannya mulai pulih di tahun 1903, tapi baru pada 1904, ketika ia memberikan kuliah pertamanya (di Amerika) yang kemudian berlangsung selama 6,5 tahun, Weber mulai mampu kembali aktif dalam kehidupan akademis tahun 1904 dan 1905 ia menerbitkan salah satu karya terbaiknya. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Dalam karya ini Weber mengumumkan besarnya pengaruh agama ibunya di tingkat akademis. Weber banyak menghabiskan waktu untuk belajar agama meski secara pribadi ia tak religius.

Meski terus diganggu oleh masalah psikologis, setelah 1904 Weber mampu memproduksi beberapa karya yang sangat penting. Ia menerbitkan hasil studinya tentang agama dunia dalam perspektif sejarah dunia (misalnya Cina, India, dan agama Yahudi kuno). Menjelang kematiannya (14 Juni 1920) ia menulis karya yang sangat penting, Economy and Society. Meski buku ini diterbitkan, dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, namun sesungguhnya karya ini belum selesai. Selain menulis berjilid-jilid buku dalam periode ini, Weber pun melakukan sejumlah kegiatan lain. Ia membantu mendirikan German Sociological Society di tahun 1910. Rumahnya dijadikan pusat pertemuan pakar berbagai cabang ilmu termasuk sosiologi seperti Georg Simmel, Alfred, maupun filsuf dan kritikus sastra Georg Lukacs (Scaff, 1989:186:222). Weberpun aktif dalam aktivitas politik dimasa itu. Ada ketegangan dalam kehidupan Weber dan, yang lebih penting, dalam karyanya, antara pemikiran birokratis seperti yang dicerminkan oleh ayahnya dan rasa keagamaan ibunya. Ketegangan yang tak terselesaikan ini meresapi karya Weber maupun kehidupan pribadinya.

Maximilian Weber adalah seorang ahli ekonomi politik dan sosiolog dari Jerman yang dianggap sebagai salah satu pendiri ilmu sosiologi dan administrasi negara modern.

Lahir : 21 April 1864, di Enfurt, Jerman
Wafat : 14 Juni 1920, di Munchen, Jerman
Istri : Marianne Weber
Orang Tua : Max Weber Sr & Helene Fallenstein
Karya Terkenal : Etika Protestan & Semangat Kapitalisme, 8 Karakteristik Ideal Birokrasi
Pendidikan : Universitas Humboldt Berlin (1884-1889), Universitas Ruprecht Karl Heidelberg (1882-1884)

Sabtu, 12 Oktober 2013

Posted by Unknown | File under :
Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan sejarah dan definisi dari Birokrasi, kali ini saya akan menjelaskan sedikit tentang karakteristik dari Birokrasi. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Birokrasi dimaksudkan sebagai kekuasaan dipegang oleh orang-orang di belakang meja, karena segala sesuatunya telah diatur secara legal dan formal oleh para Birokrat, Birokrat itu adalah sebutan untuk orang-orang yang berada dibelakang meja itu tadi, itu bahasa kerennya "Birokrat"..hehe.. Namun demikian diharapkan pada pelaksanaannya kekuasaan tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara moral maupun dihadapan publik dan sejelas-jelasnya karena setiap jabatan diurus oleh orang yang khusus.

Seperti apa yang dinyatakan oleh Blau dan Page, bahwa Birokrasi dimaksudkan untuk melaksanakan tugas-tugas administrasi yang besar. Hal itu hanya berlaku pada organisasi besar seperti pemerintahan, karena organisasi pemerintahan segala sesuatu diatur secara formal, sedangkan pada organisasi kecil hanya diperlukan hubungan informal. Selama ini banyak pakar yang meneliti dan menulis tentang Birokrasi bahwa fungsi staff pegawai administrasi harus memiliki cara-cara yang spesifik agar lebih efektif dan efisien.

Berikut 11 karakteristik dari Birokrasi yang efektif dan efisien :

1. Bekerja sesuai dengan aturan (rule)
2. Tugas yang khusus (spesialisasi)
3. Kaku dan sederhana (rigid & simple)
4. Penyelenggaraan yang resmi (formal) 
5. Pengaturan dari atas ke bawah (hirarkis)
6. Berdasarkan logika (rasional)
7. Tersentralistik (otoritas)
8. Taat dan patuh (obedience)
9. Tidak melanggar ketentuan (discipline)
10. Terstruktur (sistematis)
11. Tanpa pandang bulu (impersonal)

Berikut 8 karakteristik Birokrasi dari Max Waber, saya perkenalkan dulu Max Waber ini dijuluki sebagai "Bapak Birokrasi". Mengapa beliau dijuluki sebagai Bapaknya Birokrasi?? Nanti kita bahas pada artikel selanjutnya. Untuk kali ini saya mau menjabarkan 8 karakteristik Birokrasi yang dibuat-Nya dulu..hehe..

1. Organisasi yang disusun secara hirarkis

2. Setiap bagian memiliki wilayah kerja khusus

3. Pelayanan publik terdiri atas orang-orang yang diangkat, bukan dipilih, dimana pengangkatan tersebut didasarkan pada kualifikasi kemampuan, jenjang pendidikan, dan melalui pengujian.

4. Pelayan publik menerima gaji sesuai posisi

5. Pekerjaan sekaligus merupakan jenjang karir

6. Para pejabat/pekerja tidak memiliki sendiri kantor mereka

7. Setiap pekerja dikontrol dan harus disiplin

8. Promosi yang ada didasarkan penilaian atasan

Hal-hal tersebut diatas merupakan prinsip dasar dan karakteristik yang ideal dari suatu Birokrasi. Apa yang telah dikemukakan oleh Max Waber tentang 8 karakteristik Birokrasi yang ideal itu adalah pelopor dari munculnya karakter-karakter yang lain dari Birokrasi itu sendiri, salah satu contohnya 11 karakteristik Birokrasi yang efektif dan efisien diatas merupakan pengembangan dari 8 karakteristik yang disampaikan oleh Max Waber. Tidak menutup kemungkinan akan ada banyak karakteristik yang akan menyempurnakan 8 karakteristik dari Max Waber tersebut, tentunya itu akan sejalan dengan perubahan jaman dan kebutuhannya. 

Yah, karakteristik tersebut idealnya memang harus dimiliki oleh para Birokrat agar tugas-tugas administrasi yang besar dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga tujuan organisasi dapat tercapai sesuai yang direncanakan. Dengan demikian pendapat kebanyakan orang tentang Birokrasi yang cenderung negatif dapat diluruskan dan tentunya dipahami serta dimengerti juga dijalankan sesuai aturan dan prosedur yang berlaku tentunya..OKLAY.


Posted by Unknown | File under :

Birokrasi merupakan sesuatu yang sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang karena Birokrasi sudah menjadi satu kesatuan didalam sistem pemerintahan maupun organisasi. Apapun yang kita lakukan kadang kala terbentur dengan yang namanya Birokrasi. Menurut pendapat sebagian orang Birokrasi itu adalah proses yang sangat berbelit-belit, buang-buang waktu, dan kadangkala orang menyimpulkan bahwa Birokrasi itu ujung-ujungnya adalah biaya yang sangat mahal (high cost). Pendapat yang seperti itu tidaklah dapat disalahkan seluruhnya, karena andai kata orang-orang yang duduk dibelakang meja taat pada prosedur dan aturan serta disiplin dalam menjalankan tugasnya, maka Birokrasi akan berjalan lancar dan gak akan ada yang namanya high cost itu tadi.

Untuk meluruskan pemikiran-pemikiran tersebut, kita dapat menyimak dan memahami pendapat para pakar/ahli mengenai apa yang dimaksud dengan Birokrasi itu sendiri.

Birokrasi yang dalam bahasa Inggris "Bureaucracy" berasal dari kata "Bureau" yang artinya meja dan "Cratein" yang artinya kekuasaan. Maksudnya adalah kekuasaan berada pada orang-orang yang di belakang meja.

Menurut Bintoro Tjokroamidjojo (1984), "Birokrasi dimaksudkan untuk mengorganisir secara teratur suatu pekerjaan yang harus dilakukan oleh banyak orang". Dengan demikian sebenarnya tujuan dari Birokrasi adalah agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat dan terorganisir. Bagaimana suatu pekerjaan yang banyak jumlahnya harus diselesaikan oleh banyak orang sehingga tidak terjadi tumpang tindih didalam penyelesaiannya, itulah yang sebenarnya menjadi tugas dari Birokrasi.

Blau dan Page (1956) mengemukakan "Birokrasi sebagai tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan untuk mencapai tugas-tugas administratif yang besar dengan cara mengkoordinir secara sistematis (teratur) pekerjaan dari banyak orang". Jadi menurut Blau dan Page, Birokrasi justru untuk melaksanakan prinsip-prinsip organisasi yang ditujukan untuk meningkatkan efisiensi administratif, meskipun kadangkala didalam pelaksanaannya Birokratisasi seringkali mengakibatkan adanya ketidakefisienan.

Dengan mengutip pendapat dari Mouzelis, Ismani (2001) mengemukakan "Bahwa dalam Birokrasi terdapat aturan-aturan yang rasional, struktur organisasi dan proses berdasarkan pengetahuan teknis dan dengan efisiensi dan setinggi-tingginya. Dari pandangan yang demikian tidak sedikitpun alasan untuk menganggap Birokrasi itu jelek dan tidak efisien.

Dengan megutip pendapat Fritz Morstein Marx, Bintoro Tjokroamidjojo (1984) mengemukakan bahwa Birokrasi adalah "Tipe oganisasi yang dipergunakan pemerintahan modern untuk pelaksanaan tugas-tugas yang bersifat spesialisasi, dilaksanakan dalam sistem administrasi yang khususnya oleh aparatur pemerintahan".

Dengan mengutip Blau dan Meyer, Dwijowijoto (2004) menjelaskan bahwa "Birokrasi adalah suatu lembaga yang sangat kuat dengan kemampuan untuk meningkatkan kapasitas-kapasitas potensial terhadap hal-hal yang baik maupun buruk dalam keberadaannya sebagai instrumen administrasi rasional yang netral pada skala yang besar". Selanjutnya dikemukakan bahwa "Didalam masyarakat modern, dimana terdapat begitu banyak urusan dan terus-menerus, hanya organisasi Birokrasi yang mampu menjawabnya".

Jadi kesimpulannya, Birokrasi adalah Suatu prosedur didalam sistem yang harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar tujuan dari organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien.